Suasana interview perekrutan pegawai baru untuk bagian Finance di sebuah Perusahaan minyak:
Pelamar pertama yang di-interview bernama Joko berasal dari Yogyakarta. Setelah beberapa pertanyaan basa basi tentang nama, latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja, pewawancara mulai memberi pertanyaan serius: “Saya ingin tahu seberapa cepat anda berhitung sebagai seorang akuntan. Kalau perusahaan ini memproduksi 500.000 barrel per hari dan biaya operasi-nya termasuk penyusutan adalah $10/barrel sedang harga minyak adalah $20 per barrel dan pajak 35%, maka berapa laba sebelum pajak per harinya?” Joko yang lulusan terbaik dari universitas ternama di Yogya, sama sekali tidak kesulitan menjawab pertanyaan ini. Dengan sopan dia menjawab: “Kalau tidak salah laba sebelum pajak akan menjadi $5 juta per hari Pak”. Pewawancara kembali bertanya: “Apakah saudara yakin? Bagaimana kalau saya punya jawaban lain?”. Joko menjawab masih dengan sopan: “Rasanya tidak mungkin Pak, sudah pasti laba sebelum pajak-nya $5 juta per hari”.
Setelah itu Joko masih mendapat beberapa pertanyaan yang lain dan kemudian Joko dipersilahkan keluar ruangan dan diberitahu bahwa akan ada pemberitahuan melalui pos tentang hasil interview.
Pelamar kedua adalah Simatupang dari Medan. Ketika mendapat pertanyan yang sama dg Joko, dia langsung menjawab dengan lugas khas orang Sumatra Utara: “Bah itu sudah pasti laba sebelum pajaknya adalah $ 5 juta per hari”. Pewawancara kembali bertanya: “Apakah saudara yakin? Bagaimana kalau saya punya jawaban lain?”. Simatupang menjawab denga tegas: “Tak mungkinlah itu, kalau bukan $5 juta pasti salah kubilang”.
Setelah menjawab beberapa pertanyaan yang lain, dia pun dipersilahkan keluar dan diberitahu bahwa hasil interview akan dikirimkan melalui pos.
Pelamar ketiga adalah Udin dari Padang. Udin juga mendapat pertanyaan yang sama yaitu tentang berapa laba perusahaan sebelum pajak dengan variabel2 yang persis sama? Udin dengan hati-hati melihat kiri, kanan, dan mengintip keluar pintu, kemudian Udin menutup pintu ruang interview dengan rapat dan menjawab dengan setengah berbisik: “Bara rancak kito buek Pak? (Berapa bagusnya kita bikin Pak?)”. Maka dengan senyum lebar sang pewawancara langsung menjabat tangan Udin dan berkata: “Anda bisa mulai bekerja besok!”
GHS
October 15, 2009 at 12:13 AM |
Ha ha ha ha… Hidup Udin! Saya pikir Udin orang sunda ternyata Padang toh.. Kenapa nggak Midun aja namanya. hahahha… Negosiasi saling menguntungkan nampaknya…. bukan begitu pakde???
Salam saya
October 15, 2009 at 1:08 PM |
Di Pekanbaru banyak orang Minang yang namanya Syafrudin atau Chaerudin yang akrab dipanggil Udin
Orang Minang terkenal tangguh dalam berusaha, sahabat2 saya yang berasal dari SumBar bilang pintar saja tidak cukup, tapi harus pandai-pandai.
October 19, 2009 at 9:20 AM
Bukan pinter ngomong tapi cakap bicara, begitu katanya, bukan “belajar mobil” tapi “kemahiran mobil” beda2 tipis ya…
March 5, 2010 at 4:31 PM |
… fenomena yang bergulir diantara lorong tersembunyi
antara pelamar ke 3 dan pewawancara.
dan dunia terasa hengap …
salam.